Dan Nama Allah pun Dicerca
oleh
Milis Allah-Semata
Seruan yang lazim digunakan oleh umat Islam di dalam shalat adalah “Allahu akbar”. Seruan “Allahu akbar” juga biasa digunakan ketika mengumandangkan panggilan shalat, sebagai teriakan penyemangat pada forum keislaman, bahkan juga menjadi bagian syair lagu ruhani.
Kata “akbar” terlanjur dimaknai sebagai “maha Besar”. Padahal kalau kita perhatikan pemakaian kata “akbar” di dalam al-Qur’an, ia menunjuk kepada sebuah perbandingan yang artinya “lebih besar”. Mari kita simak contoh pemakaian kata “akbar” di dalam tiga ayat berikut ini:
”... Kebencian telah nyata dari mulut mereka, dan apa yang dada mereka sembunyikan adalah lebih besar (akbar). Maka Kami menjelaskan kepada kamu ayat-ayat, jika kamu faham.” (Q.S. 3:118)
”Apabila dia melihat matahari terbit, dia berkata, ’Inilah Pemeliharaku; ini lebih besar! (akbar)’ Tetapi apabila ia terbenam, dia berkata, ’Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri apa yang kamu sekutukan.” (Q.S. 6:78)
”Sungguh, penciptaan langit dan bumi adalah lebih besar (akbar) daripada penciptaan manusia; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Q.S. 40:57)
Pada ayat yang pertama dibandingkan antara besarnya kebencian yang tersimpan di dada orang-orang tidak beriman dengan besarnya kebencian yang terlontar dari mulut mereka. Pada ayat yang ke dua dibandingkan antara besarnya matahari dengan besarnya bulan. Pada ayat yang ke tiga dibandingkan antara besarnya penciptaan langit dan bumi dengan besarnya penciptaan manusia.
Oleh karena itu arti sebenarnya dari ”Allahu akbar” adalah ”Allah lebih besar”.
Meskipun ada banyak kata ”akbar” di dalam al-Qur’an, tidak satupun diantaranya yang digunakan untuk menyebut nama Allah.
Nama yang Allah gunakan untuk mewakili sifat Kebesaran-Nya adalah ”al-Kabir”. Tiga ayat di bawah ini memperlihatkan penyebutan yang benar atas nama yang mewakili sifat Kebesaran Allah.
”Yang Tahu yang ghaib dan yang nampak, Yang Besar (kabir), Yang Tinggi.” (Q.S. 13:9)
”Itu adalah karena Allah, Dia Yang Benar, dan bahwa apa yang mereka seru, selain dari Dia, itulah yang palsu; dan sesungguhnya Allah, Dia Yang Tinggi, Yang Besar (kabir).” (Q.S. 22:62)
”Itu adalah karena, apabila dipanggil kepada Allah satu-satunya, kamu tidak percaya; tetapi jika yang lain disekutukan dengan-Nya, maka kamu percaya. Putusan adalah bagi Allah, Yang Tinggi, Yang Besar (kabir).” (Q.S. 40:12)
Meskipun berasal dari akar kata yang sama, kata ”akbar” jelas memiliki makna yang berbeda dengan kata ”kabir” sehingga pemakaiannya pun tidak bisa dipertukarkan satu sama lain.
Kata ”akbar” yang dilekatkan pada penyebutan Allah adalah sebentuk plesetan/olok-olok atas nama-Nya ”al-Kabir”. Allah memerintahkan kita untuk memanggil-Nya dengan asma ul-husna sebagaimana yang telah diajarkan-Nya di dalam al-Qur’an, dan meninggalkan orang-orang yang mencerca nama-Nya.
”Kepunyaan Allah nama-nama yang paling baik, maka berserulah kepada-Nya dengannya, dan tinggalkanlah orang-orang yang mencercai nama-nama-Nya. Mereka akan dibalas dengan apa yang mereka perbuat.” (Q.S. 7:180)
Ketika akan mengawali shalat, ikutilah petunjuk Allah yaitu dengan menyeru Allah (ya Allah/wahai Allah), atau ar-Rahmaan (ya Rahmaan/wahai yang Pemurah), atau asma-Nya yang lain semisal al-Kabir (ya Kabiir/wahai yang Besar).
"Serulah Allah, atau serulah Ar-Rahman, mana saja yang kamu seru, bagi-Nya nama-nama yang paling baik". (Q.S. 17:110)
Jangan sampai kita tergolong orang yang memperolok-olok nama Allah oleh sebab menjalankan agama tidak berdasarkan petunjuk al-Qur’an.
Na’udzubillah!
Sila rujuk
Kalimat besar di dalam al-Qur'an
Halaman Utama Terkini Bacaan E-Mail Hiasan Kalimat Pilihan
Keratan Akhbar Penemuan Soalan Lazim Sudut Pelajar